Agar Tren Tidak Menjadi ‘Racun’ guna Produk

Agar Tren Tidak Menjadi ‘Racun’ guna Produk

Bisa nggak, sih, anda mengadaptasi tren baik yang lokal maupun tradisional? Bagaimana tren tidak meracuni produk sampai-sampai terlihats ebagai produk copycat? Mungkin pertanyaan-pertanyaan itu kerap hadir saat seorang empunya bisnis hendak berinovasi atau mengembangkan produknya cocok tren.

Ketika berkata tentang tren, tak semata hanya sehubungan dengan dunia fashion. Tren dapat berlaku di sekian banyak bidang. Berdasarkan keterangan dari Nonita Respati, desainer sekaligus founder Purana Indonesia, clothing line yang mengangkat wastra Indonesia, siap saja dapat menjadi trendsetter atau pencipta tren.

Namun yang butuh diperhatikan, menurut keterangan dari Nonita ialah bagaimana tren yang diaplikasikan ke produk tidak malah ‘merusak’ produk kita. Sebagai seorang desainer atau empunya brand, anda harus sensitif dalam menyimak tren, supaya kita dapat membuat produk yang relevan, kekenian, dan dapat dinikmati dan dibeli.

Inovasi menjadi kata kunci supaya produk dapat bertahan. “Kalau anda punya label fashion dan tiap season menerbitkan yang itu-itu saja, orang akan gampang bosan,” ungkap Nonita, dalam acara Wise Women Masterclass yang dilangsungkan di Semarang, sejumlah waktu lalu.

Noni pun membagi empiris dalam menggali sumber tren. Baginya, sumber tren yang terpercaya tersebut penting, dapat didapat lewat website terpercaya atau media massa.

Lalu, hal apa saja dalam tren yang mesti diperhatikan?
1/ Warna
Warna hal penentu utama saat kita inginkan beli baju. Mengerti warna yang lagi tren paling penting.

2/ Potongan/cutting
Sering terjadi, dalam mengadaptasi tren, produk bisanya mengkopi langsung dari runway. “Ple-plekan contek melulu diganti kain batik saja,” kata Noni.

Berdasarkan keterangan dari Noni, ini paling berisiko. “Sebetulnya dengan memahami teknik potongan, saat baju kita digunakan maka tidak miring-miring atau kerut-kerut sampai-sampai konsumen yang melakukan pembelian tidak merasa rugi sudah menerbitkan uang ntuk produk kita. Purana sendiri tidak sedikit bermain di cutting yang oversize supaya bisa masuk ke konsumen yang beragam,” jelas Noni membagi trik.

3/ Mix & Match
Harus dipahami, supaya bisa menciptakan konsumen melakukan pembelian barang anda lebih dari satu, anda harus dapat melakukan mix & match produk. Misalnya, outer dipadu padan dengan produk atasan atau celana. Hal ini akan menciptakan konsumen impulsif membeli.

Noni mengingatkan, dalam mengaplikasikan tren global, hindari mengopi. “Kecenderungan tidak sedikit orang ialah menjiplak. Hal ini pada kesudahannya akan menciptakan DNA produk anda tidak terbentuk sehingga dapat membingungkan orang yang mau menggali brand kita,” pesannya. Mengambil suatu tren tersebut bukan dengan teknik mengkopi, tetapi esensi.

Yang tak kalah penting ialah menyelaraskan tren dengan menyaksikan demografi konsumen, usia, profesi, habit berbusana, iklim lokasi kita memasarkan produk dan sebagaimana. “Usahakan guna komunikasi dengan chanel atau reseller anda di masing-masing kota, sebab pengalaman saya di tiap kota dan daerah bertolak belakang item yang diminati,” katanya.

Baca Juga :