Biografi William Soeryadjaya – Pendiri Astra Internasional

Biografi William Soeryadjaya – Pendiri Astra Internasional

William Soeryadjaya dicetuskan di Majalengka , 23 Desember 1923 dengan nama Tjia Kian Liong. Ia ialah anak kedua dari 6 bersaudara dan anak laki-laki kesatu dalam keluarganya.

Masa kecil William tak terlalu lain dengan anak-anak pada umumnya, sekolah, bermain, membantu berniaga ayahnya. Hingga pada umur 12 tahun cobaan datang menerpa family mereka. Sang ayah meninggal pada bulan Oktober 1934, lantas ibunya pun meninggal pada Desember 1934. Praktislah di umur 12 tahun William dan saudaranya menjadi anak yatim piatu.

Ketika tersebut tak ada opsi di samping harus terus berusaha menyambung hidup. William Suryadjaya kesudahannya meneruskan usaha sang ayah yakni berjualan hasil bumi. Karena dia mesti bekerja, kesudahannya sekolahnya terlantar. Hingga ia sempat bermukim kelas. Namun ia pantang menyerah, ia tetap meneruskan sekolah. Hingga ia sukses lanjut edukasi ke MULO .

Bidang study yang digemari William Suryadjaya ialah ekonomi dan tata buku/ pembukuan. Dan ternyata dua ilmu berikut yang mengirimkan seorang William Suryadjaya berhasil dalam berbisnis.

William Soeryadjaya Mendirikan Astra Internasional

Perusahaan penyamakan kulit dan usaha dagang hasil bumi William dan istri kian lama kian berkembang. William menyimpulkan untuk focus menjual hasil bumi diperbanyak dengan sekian banyak minuman ringan.

Inilah cikal akan berdirinya Astra. Ditahun 1957 William menggandeng adiknya yakni Tjia Kian Tie dan temannya Lim Peng Hong untuk menegakkan perusahaan yang lebih professional yakni Astra. Di samping hasil bumi dan minuman ringan, Asttra kemudian pun mengimpor truk untuk dijual di dalam negeri.

Ketika berikut Astra yang lantas menjadi Astra Internasional Tbk semakin menggurita dengan sekian banyak anak perusahaan yang lebih dari 70 perusahaan dibawahnya. Bahkan di tahun 1992 terdapat 300 perusahaan yang terdapat dalam grup Astra.

Astra menjadi perusahaan besar dengan saham blue chipnya tak lepas dari focus William dalam mengembangkan SDM nya. William tak segan-segan mengirim karyawannya yang tampak cerdas guna belajar ke luar negeri. Salah satu petinggi grup Astra yang pun mendapat beasiswa ialah Sandiaga SalahudinUno.

Dalam menjalankan perusahaannya,, William mengkhususkan nilai-nilai naluri, loyalitas dan pasti kejujuran. SDM Astra benar-benar digembleng guna menjadi unggulan, mengkhususkan innovasi dalam pengembangan produk.

William Soeryadjaya Pernah Hampir Pailit

Di Tahun 1992, ada di antara anak perusahaan Astra yakni Bank Summa yang dipegang oleh anak William Soeryadjaya yakni Edwin Soeryadjaya nyaris colaps. Hal ini disebabkan keberanian Edward menyerahkan kredit guna nasabahnya. Hal ini menciptakan hutang Bank Summa bertambah tajam tak terkendali.

Pilihan ketika itu ialah menutup Bank Summa yang telah menjadi lading hidup untuk ratusan karyawannya atau memasarkan saham Astra untuk memblokir hutang-hutang bank Summa sampai-sampai tidak hingga di likuidasi.

William Soeryadjaya bukanlah orang yang egois. Beliau paling mengedepankan kepentingan karyawannya daripada diri sendiri. Akhirnya beliau memilih mengamankan Bank Summa dengan memasarkan semua sahamnya di Astra. Itu ialah pilihan yang sulit untuk dirinya. Namun beliau memilih yang terbaik. Daripaa memblokir Bank Summa dan menjadikan tidak sedikit karyawannya pengangguran.

Setelah keputusannya itu, William Soeryadjaya pelan-pelan bangkit. Ia melakukan pembelian 10 juta saham PT Mandiri Intifinance, beliau juga mengerjakan investasi di pengembangan usaha kecil laksana pertanian, UKM dan semacamnya. Sumber : https://www.infobiografi.com/