Pengertian Akulturasi Dan Asimilasi Serta Faktornya

Pengertian Akulturasi Dan Asimilasi Serta Faktornya

 

Pengertian Akulturasi Dan Asimilasi Serta Faktornya

Pengertian Akulturasi

Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri.
Contoh akulturasi : saat budaya rap dari negeri asing digabungkan dengan bahasa jawa, sehingga menge-rap dengan menggunakan bahasa jawa.
Proses akulturasi itu memang sudah ada sejak dulu kalam dalam sejarah kebudayaan manusia, tetapi proses akulturasi yang mempunyai sifat-safat yang khusus baru timbul ketika kebudayaan-kebudayaan bangsa-bangsa di Eropa Barat mulai menyebar ke semua daerah lain di muka bumi, dan mulai mempengaruhi masyarakat-masyarakat suku-suku bangsa di Afrika, Asia, Oseania, Amerika Utara, dan Amerika Latin. Dari sejarah dunia kita mengetahui bahwa bangsa-bangsa Eropa Barat itu mulai menyebar ke luar Eropa pada permulaan abad ke-15.
Penelitian-penelitian sekitar masalah akulturasi timbul dalam lapangan ilmu antropologi kurang dari setangah abad yang lalu. Sebelumya banyak sarjana antropologi seringkali tertarik akan kebudayaan suku-suku bangsa di luar Eropa yang “se-asli”. Penelitian-penelitian yang memperhatikan masalah akulturasi dimulai kira-kira sekitar tahun 1910, dan bertambah banyak sekitar tahun 1920. Penelitian-penelitian itu sebagian besar bersifat deskriptif, yaitu : melukiskan satu peristiwa akulturasi yang konkret pada satu atau beberapa suku bangsa tertentu yang sedang mendapat pengaruh unsur-unsur kebudayaan Ero-Amerika.
Dalam meneliti jalannya suatu proses akulturasi, seorang peneliti sebaiknya memperhatikan beberapa soal khusus yaitu :
a. Keadaan masyarakat penerima sebelum proses akulturasi mulai berjalan.
b. Individu-induvidu dari kebudayaan asing yang membawa unsur-unsur kebudayaan asing.
c. Saluran-saluran yang dilalui oleh unsur-unsur kebudayaan asing untuk masuk ke dalam kebudayaan penerima.
d. Bagian-bagian dari masyarakat penerima yang terkena pengaruh unsur-unsur kebudayaan asing tadi.
f. Reaksi para individu yang terkena unsur-unsur kebudayaan asing.
Dengan demikian dalam tiap penelitian terdapat suatu proses akulturasi, dsebaiknya diperhatikan kelima hal tersebut, dan tiap deskripsi terhadap suatu proses akulturasi sabaiknya mengandung lima bab yang masing-masing menguraikan hal-hal tersebut

Pengertian Asimilasi

Asimilasi adalah pembaruan dau kebudayaan yang disertai dengan hilangnya ciri khas kebudayaan asli sehingga membentuk kebudayaan baru. Suatu asimilasi ditandai oleh usaha-usaha mengurangi perbedaan antara orang atau kelompok. Untuk mengurangi perbedaan itu, asimisali meliputi usaha-usaha mempererat kesatuan tindakan, sikap dan perasaan dengan memperhatikan kepentingan serta tujuan bersama.
Asimilasi dapat terbentuk apabila terdapat tiga persyaratan berikut, diantaranya :
a. Terdapat sejumlah kelompok yang memiliki kebudayaan berbeda.
b. Terdapat pergaulan antara individu atau kelompok secara intensif dan dalam waktu yang relatif lama.
c. Kebudayaan masing-masing kelompok tersebut saling berubah dan menyesuaikan diri.

Faktor Pendorong

Faktor-faktor yang mendorong atau mempermudah terjadinya asimilasi antara lain:
1. Toleransi di antara sesama kelompok yang berbeda kebudayaan.
2. Kesempatan yang sama dalam bidang ekonomi.
3. Kesediaan menghormati dan menghargai orang asing dan budaya budaya yang dibawanya.
4. Sikap terbuka dari golongan yang berkuasa dalam masyarakat.
5. Persamaan dalam unsur-unsur kebudayaan universal.
6. Perkawinan antara kelompok yang berbeda budaya.
7. Mempunyai musuh yang sama dan menyakini kakuatan masing-masing untuk menghadapi musuh tersebut.

Faktor Penghalang

Faktor-faktor yang dapat menjadi penghalang terjadinya asimilasi antara lain:
1. Kelompok yang terisolasi atau terasing (biasanya kelompok minoritas).
2. Kurangnya pengetahuan mengenai kebudayaan baru yang dihadapi.
3. Prasangka negatif terhadap pengaruh kebudayaan baru.
4. Perasaan bahwa kebudayaan kelompok tertentu lebih tinggi dari pada kebudayaan kelompok lain. Kebanggaan berlebihan ini mengakibatkan kelompok yang satu tidak mau mengakui keberadaan kebudayaan kelompok yang lainnya.
5. Perbedaan ciri-ciri fisik, seperti tinggi badan, warna kulit atau rambut.
6. Perasaan yang kuat bahwa individu terikat pada kebudayaan kelompok yang bersangkutan.
7. Golongan minoritas mengalami gangguan dari kelompok penguasa.