Proses Disosiatif

Proses Disosiatif

Proses Disosiatif

Proses –proses interaksi sosial disosiatif sering disebut sebagai oppositional processes. Proses interaksi sosial disosiatif cenderung menciptakan perpecahan dan meregangkan solidaritas di antara anggota kelompok.

 

a. Persaingan (Competition)

Persaingan merupakan suatu proses sosial ketika ada satu pihak atau lebih saling berlomba dan berbuat sesuatu untuk mencapai kemenangan tertentu. Persaingan terjadi apabila beberapa pihak menginginkan sesuatu yang jumlahnya sangat terbatas.
Bentuk-bentuk persaingan yang terjadi dalam masyarakat adalah sebagai berikut:

1) Persaingan ekonomi
Persaingan ini timbul karena terbatasnya persediaan apabila dibandingkan dengan julah konsumen. Persaingan merupakan salah satu cara untuk memilih produsen yang baik.

2) Persaingan kebudayaan
Terjadi sewaktu Kebudayaan Barat yang dibawa oleh orang-orang Belanda pada akhir abad ke-15 berhadapan dengan kebudayaan Indonesia.

3) Persaingan kedudukan dan peranan
Di dalam diri seseorang maupun di dalam kelompok terdapat keinginan-keinginan untuk diakui sebagai orang atau kelompok yang mempunyai kedudukan serta peranan yang terpandang. Apabila seseorang dihinggapi perasaan bahwa kedudukan dan peranannya sangat rendah, dia hanya menginginkan kedudukan dan peranan yang sederajat dengan orang-orang lain.

4) Persaingan ras
Sebenarnya persaingan ras juga merupakan persaingan di bidang kebudayaan. Misalnya sebelum perang Dunia Kedua, para guru berkulit putih tidak mengajar di Jepang karena kalah bersaing melawan guru-guru lokal.

Persaingan dalam batas-batas tertentu dapat mempunyai beberapa fungsi yaitu sebagai berikut:

1) Untuk menyalurkan keinginan individu atau kelompok yang bersifat kompetitif.
2) Sebagai jalan dimana keinginan, kepentingan serta nilai-nilai dalam masyarakat tersalurkan dengan sebaik-baiknya.
3) Sebagai alat untuk mengadakan seleksi atas dasar sosial.
4) Sebagai alat untuk menyaring warga untuk mengadakan pembagian kerja.

 

b. Kontravensi

Kontravensi merupakan sikap menentang secara tersembunyi agar tidak sampai terjadi perselisihan secara terbuka. Menurut Leopold von Wiese dan Howard Becker terdapat lima bentuk kontravensi:
1) Kontravensi umum, misalnya: penolakan, keengganan, protes.
2) Kontravensi sederhana, misalnya menyangkal pernyataan orang di depan umum.
3) Kontravensi intensif, misalnya: penghasutan, penyebaran desas-desus.
4) Kontravensi rahasia, misalnya: pembocoran rahasia, khianat.
5) Kontravensi taktis, misalnya: mengejutkan pihak lawan, provokasi dan intimidasi.

 

c. Konflik atau Pertentangan

Konflik berasal dari bahasa latin, yakni configere artinya saling memukul. Konflik berbeda dengan persaingan dan kontravensi. Konflik berarti pertentangan atau perbedaan antara dua kekuatan yang sering disertai intimidasi dan kekerasan untuk saling menguasai. Hal ini disebabkan karena setiap individu ataupun masyarakat memiliki tata nilai dan ukuran yang berbeda dalam memandang sesuatu. Kondisi yang berbeda ini akan melahirkan cara pandang yang berbeda pula. Perbedaan yang dapat menimbulkan konflik atau pertentangan antara lain:
a. perbedaan ciri fisik (ras)
b. perbedaan emosi (perasaan)
c. perbedaan kebudayaan
d. perbedaan kepentingan
Perbedaan ini akan memuncak menjadi pertentangan apabila keinginan-keinginan mereka tidak dapat diakomodasikan, sehingga masing-masing pihak berusaha untuk menghancurkan lawan disertai ancaman dan kekerasan.

Sumber : http://ecole-dragontigre.kazeo.com/ciri-ciri-teks-eksplanasi-a165655892