Respon Lonjakan Harga Bawang, Dinas Pertanian Diminta Tinjau Lapangan

Respon Lonjakan Harga Bawang, Dinas Pertanian Diminta Tinjau Lapangan

Respon Lonjakan Harga Bawang, Dinas Pertanian Diminta Tinjau Lapangan
Respon Lonjakan Harga Bawang, Dinas Pertanian Diminta Tinjau Lapangan
BANDUNG- Sepekan terakhir ini, terjadi lonjakan untuk beberapa komponen pangan diantaranya lonjakan harga Bawang merah dan Bawang Putih. Dari pantauan jabarprov.go.id, akhir pekan ini di Pasar Astana Anyar Kota Bandung, terjadi kenaikan harga yang signifikan untuk kedua komoditas pangan tersebut.

Dari Hasil pantauan dan hasil wawancara dengan beberapa pedagang

dan pembeli, untuk Bawang Putih semula harganya Rp.15.000,- per Kg mengalami kenaikan menjadi Rp.72.000,- per Kg dan Bawang Merah semula Rp.25.000,- per Kg naik  menjadi Rp.52.000,- per Kg.
Lonjakan harga juga diikuti dengan beberapa jenis sayuran dan jenis pangan lainnya, antara lain Mentimun semula Rp.2.500 per Kg mengalami kenaikan menjadi Rp.5.000,- per Kg serta Daging Ayam semula Rp.22.500,- per Kg menjadi Rp.27.000,- per Kg.

Menyikapi tingginya kenaikan harga Bawang Merah dan Bawang Putih

, Sekretaris Komisi B DPRD Jabar, Ade Gozali ketika dihubungi jabarprov.go.id melalui telepon selularnya mengatakan sehubungan dengan kenaikan harga yang tajam untuk Bawang Merah dan Bawang Putih, dihimbau Dinas teknis yang menangani bidang Pertanian baik di tingkat Provinsi maupun Kota/Kabupaten diminta segera turun ke lapangan. Dinas teknis tersebut, diminta dapat meninjau langsung kondisi Bawang Merah dan Bawang Putih, baik mulai areal penanaman, persediaan di petani sampai dengan distribusi pemasaran bahkan sampai areal pemasarannya.
Untuk areal penanaman,kendati pusat penanaman Bawang Merah dan Bawang Putih, ada di Brebes, Jateng. Di Jabar juga  mempunyai sentra penanaman di beberapa daerah antara lain : Kuningan, Indramayu, Majalengka dan Pangalengan Kabupaten Bandung.

Dari laporan yang diterima pihak Dinas Pertanian dan  Tanaman Pangan Jabar

, di akhir tahun 2012 yang lalu, para petani di sentra penanaman Bawang Merah dan Bawang Putih, karena musim hujan untuk sementara tidak menanam Bawang Merah dan Bawang Putih karena dalam situasi tersebut tanaman Bawang Merah dan Bawang Putih sulit untuk berkembang secara bagus, dengan melihat kondisi tersebut diprediksi kenaikan harga disebabkan jumlah produksi yang kurang sehingga barang terbatas yang selanjutnya berakibat naiknya Bawang Merah dan Bawang Putih.
Seiring dengan terjadinya alih lahan fungsi pertanian, diprediksi juga pengurangan produksi Bawang Merah dan Bawang Putih disebabkan kian berkurangnya areal lahan penanaman sehingga ke depan, Kabupaten/Kota didorong untuk membuka areal lahan baru. Untuk menghindari gagal panen akibat faktor cuaca, seluruh Dinas Pertanian diminta untuk bisa memberikan arahan kepada para petani tentang pola tanam yang tepat.
Jika di lapangan terbukti, kenaikan harga disebabkan terbatasnya pasokan lokal, maka patut didorong masuknya Bawang Merah dan Bawang Putih impor. Impor Bawang Merah dan Bawang Putih, yang direkomendasikan hanya dalam waktu sementara, selama pasokan dalam negeri minim dan harga Bawang Merah dan Bawang Putih lokal masih tinggi.
Ade, dalam bagian lain keterangannya memaparkan masuknya impor Bawang Merah dan Bawang Putih, diminta OPD teknis yang menangani Perdagangan baik Provinsi maupun Kota/Kabupaten diminta turun ke lapangan. Harapannya, dapat mengawasi tata niaga Bawang Merah dan Bawang Putih. (Nur)