DIAM

DIAM

DIAM
DIAM

Diam itu baik, tapi tak selalu baik.

Diam untuk menghindari salah kata dan dosa, itu lebih baik. Tapi bicara dengan baik saat ada kesalahan dan dosa dengan tujuan mengingatkan dan mencegah dosa, itu ISTIMEWA. Diam itu “bicara” terbaik saat emosi, daripada mengungkap rasa dan menyakiti. Diam itu “sikap” terbaik saat keadaan tak menentu dan diluar kemampuan kita. Tapi diam adalah “keputusan” yang salah bila kita bisa berbuat lebih dengan “bicara”, kita bisa memperbaiki dengan “bicara””.

 

Diam mu membawa ku luka

Pergi mu membawa ku luka
Hilang mu membawa ku luka

Kamu hentikan nikmat Tuhan bernama Jum’at, Sabtu, Minggu dan Libur tanggal merah untuk ku bisa menghabiskan waktu denganmu

Kamu buyarkan anganku meraih bahagia demi tercapainya BEP

dan keselarasan HQQ bersama yang sudah kamu atur begitu cantik bahkan sebegitu menarik walaupun aku hanya membayangkanya
Kamu patahkan semua semangat ku mengobati luka terdahulu yang pada akhirnya malah tertambahkan lagi semakin tak terhingga karenamu

Kalau tau akan berakhir berkubik luka, tak kan aku niatkan lillahita’ala serius ku untuk kamu seorang. Karena menata hati kembali saat proses pembangunan pondasi keseriusan itu terhancurkan, sama saja seperti mengharap matahari pada musim salju tiba.

 

Teruntukmu disana

…. Maaf aku belum bisa jadi wanita terbaik versi yang kamu mau. Walaupun diluar sana banyak yang bilang “orang baik akan dipasangkan dengan orang baik; begitupun sebaliknya” namun aku percaya, aku kamu (KITA) bukan berarti sama-sama orang tidak baik, hanya saja aku yang gagal mencapai taraf kebaikanmu. Karena sejujurnya, mengayuh sepeda dengan satu kaki akan terasa percuma tanpa kayuh-an kaki yang satu lagi.

Terima kasih telah mengajarkanku arti kegagalan. Entah nanti akan seperti apa, semoga kedepannya aku tak salah menetapkan keseriusan.

Baca :